Selalu tergiur mendengar banyaknya startup yang mendapatkan investasi miliaran rupiah, atau bahkan miliaran dolar?
Well, here’s the truth: investasi adalah hutang, dan satu-satunya cara membayar hutang tersebut adalah dengan menghasilkan keuntungan. Pertanyaannya, udah untung belum?
Sebuah tulisan di blog kontroversial Zerohedge.com pada 10 November 2015 lalu memaparkan tentang bagaimana para startup yang masuk ke kategori unicorn (yaitu mereka yang memiliki valuasi sama dengan atau lebih besar dari 1 miliar dolar) mulai berjatuhan satu per satu.

Berjatuhan di sini bukan berarti mereka tutup atau bangkrut. Berjatuhan di sini adalah, setelah memiliki valuasi yang begitu tinggi, para startup ini kemudian tidak bisa lagi mendapatkan investasi yang senilai dengan valuasinya.
Alasannya?
Investor mulai melihat bahwa valuasi tersebut berlebihan, dan startup tersebut sebenarnya tidak menguntungkan.
Dropbox, misalnya, yang terakhir pada Januari 2014 divaluasi sebesar 10 milyar dolar, baru-baru ini diberi peringatan bahwa mereka tidak bisa go public (menjual sahamnya) senilai valuasi mereka dalam investment round terakhir.
Lalu, Snapchat, social media yang digemari anak muda, juga mengalami situasi yang mirip. Nilai sahamnya dipertanyakan oleh investor, dan pada akhir September lalu nilai saham Snapchat turun sebanyak 25% dalam valuasinya.
Sampai-sampai, ada istilah bahwa unicorn telah berubah menjadi zerocorn.
Bagaimana tidak? Sudah jadi rahasia umum kalau startup dengan investasi besar seringkali hanya “bakar duit”–melakukan promo besar-besaran tanpa henti, memasang harga murah hingga gratis untuk produknya, for the sake of reaching as many consumers as possible, tanpa memikirkan model bisnis atau revenue stream yang sustainable.
Istilah zerocorn sepertinya sesuai untuk diutarakan, kalau memang hasil perhitungan yang ditampilkan di artikel Zerohedge tersebut benar. Valuasi seratus lebih unicorn startup yang disajikan dalam sebuah tabel (mulai dari Uber dengan 51 milyar dolar hingga Eventbrite dengan 1 milyar dolar), jika ditotal akan mencapai 486 milyar dolar.
Namun, percaya atau tidak, total keuntungan dari semua startup tersebut adalah nol.
Salah siapa? Salah orang yang bikin valuasi? Salah orang-orang kaya bodoh yang gampang tertipu? Salah venture capital? Atau sebenarnya salah kita semua yang terlalu mendewa-dewakan valuasi dan investasi? Apakah ini berarti kita harus berhenti mendorong semua orang untuk membuat tech/digital startup, and  then go back to “real” business such as manufacturing?
Mari berpikir keras (dan realistis) bersama-sama.

Komentar